Minggu, 18 Februari 2018

Perubahan Iklim vs Lingkungan (kacamata saya)

18 Februari 2018; oleh Lady Hafidaty R.K.

Berpendapat informasi yang kita terima itu memang benar, tanpa mengkritisi lebih jauh, bukankah agak “aneh”? Kita telah diberitahukan bahwa data itu ada dua, yaitu bisa kita peroleh secara langsung atau primer—yang mana wujudnya kita tahu benar-benar valid, atau data yang tidak langsung kita peroleh, atau biasa disebut data sekunder—dari tangan ke tangan. Oleh karenanya, disini kita perlu prinsip “stay hungry, stay foolish”-nya Steve Jobs.

Di era dunia ini, ada isu yang menggemparkan, dan menjadi studi tersendiri dan bahkan lebih ditakuti dari pada sumber utama penyebabnya. Saya katakan, isu ini mengenai “perubahan iklim”. Mari kita telaah satu per satu.

Apa itu perubahan iklim?
“Iklim” adalah rata-rata cuaca suatu wilayah untuk jangka waktu yang panjang (minimal 30 tahun), meliputi wilayah yang luas. Sedangkan apabila wilayahnya sempit (lokal/setempat) dan jangka waktunya singkat, maka keadaan atmosfernya disebut “cuaca”. Secara definitif kedua istilah tersebut, maka secara logika dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim ialah perubahan kondisi atmosfer bumi dalam waktu panjang dan wilayahnya luas.

Apa itu unsur-unsur iklim, dan bagaimana proses interaksinya?
Unsur-unsur iklim sama dengan unsur cuaca, yaitu suhu udara, kelembaban, angin, tekanan udara dan curah hujan. Jika kita amati globe bumi ini, kita bisa lihat bahwa mayoritas bumi terdiri dari air laut, sisanya adalah daratan. Otomatis, yang sangat berpengaruh ialah stabilitas air terhadap atmosfer. Dari fenomena ini, kita dapat temui secara sederhana pada dapur kita: ketel atau pemanas air.

Dalam skala global, air dipanaskan melalui radiasi dan energi matahari. Semakin jauh kedalaman air, maka akan kurang mendapatkan radiasi matahari—itulah sebabnya lautan sangat dalam airnya sangat dingin. Pemanasan oleh energi matahari berdampak pada kenaikan suhu udara, yang ikut memanaskan air laut, sehingga air pun berubah fase dari cair ke gas. Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara. Tekanan udara dihasilkan setelah ada perbedaan panas dari udara. Angin, bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan yang rendah. Pembentukan awan, dipengaruhi oleh uap air dari air laut yang dipanaskan matahari. Hujan turun pada saat sudah jenuh di atmosfer, dan mencapai titik beku tertentu, lalu turun menjadi hujan air atau hujan es—bergantung pada siklus air panjang, menengah apa pendek.

Berdasarkan pengamatan menarik garis benang merah, menurut saya, siklus air, merupakan fenomena penyebab interaksi iklim yang sesungguhnya. Selain itu, panas matahari merupakan kunci dari proses iklim sendiri, karena mempengaruhi unsur utama untuk pembentukan awan, yaitu memanaskan air laut. Inilah penyebab dari proses iklim maupun cuaca di atmosfer.

Lalu, perubahan iklim itu kenapa dikaitkan dengan Gas Rumah Kaca (GRK)?
SIklus air dan panas matahari, adalah kunci dari proses iklim dan cuaca. Dengan pemahaman ini, maka GRK dapat dimaknai.

Gas-gas  Rumah Kaca (GRK), menurut konvensi PBB, mengenai  Perubahan  Iklim  (United  Nations  Framework  Convention  of Climate  Change-UNFCCC),  ada  6  jenis  gas, yaitu karbondioksida  (CO2),  dinitrooksida  (N2O),  metana  (CH4),  sulfurheksafluorida  (SF6), perfluorokarbon  (PFCs)  dan  hidrofluorokarbon  (HFCs).  Keseluruhan GRK ini menahan radiasi matahari untuk tetap berada di atmosfer. Sebenarnya, GRK jika tidak berlebih melindungi bumi, tetapi yang menjadi “penyakit” Perubahan Iklim ialah over-heat-nya oleh GRK. Artinya, terlalu banyak unsur ini di udara, sehingga berakibat fatal terhadap iklim maupun cuaca yang diperlukan untuk kehidupan makhluk hidup.

Apakah perubahan iklim adalah bagian dari lingkungan; atau lingkungan itu bagian dari perubahan iklim?
Perubahan iklim adalah bagian dari dampak permasalahan lingkungan yang ada. Ini pendapat pribadi saya, yang sudah lama berkecimpung mengamati dan mencari benang merah dari riset-riset yang ada. Perubahan iklimàperubahan keadaan atmosfer; berubah dalam jangka waktu minimal 30 tahun dan wilayahnya luas. GRK yang berlebih adalah pemicu keadaan atmosfer menjadi kurang stabil untuk kehidupan. Beberapa studi menyalahkan mengenai “Urban Heat Island” (UHI) adalah penyebab perubahan unsur-unsur cuaca maupun iklim. Padahal UHI adalah indikator dari aktivitas penyebab perubahan iklim.

Sumber penyebab sebenarnya, kenapa di perkotaan lebih panas daripada di daerah rural, sesuai grafik UHI adalah karena aktivitas ekonomi yang menyebabkan emisi GRK, serta penggunaan material bangunan penyerap radiasi matahari. Pemanasan suhu di daratan yang diindikasikan UHI ini, dapat membuat fluktuatif presipitasi di lokasi-lokasi tertentu. Selain itu, perubahan lahan tidak terbangun menjadi terbangun, terutama dari badan air dan vegetasi (lahan tidak terbanguna) yang keduanya menurunkan suhu, menyebabkan pemanasan kian menjenuh di perkotaan.

Akar penyebab dari GRK sendiri, ialah emisi GRK dari berbagai aktivitas industri, transportasi, energi, persampahan, dan sebagainya. Oleh karenanya, sebenarnya jika dilihat dari akar penyebab masalah, perubahan iklim adalah dampak dari masalah lingkungan yang selama ini kita lakukan. Jadi, kita sebenarnya telah menuai “perubahan iklim” akibat menabur sesuatu, yaitu “emisi GRK dan mengubah alam”.

Kenapa kebijakan di dunia selama ini menyalahkan perubahan iklim, dan terlihat membuang-buang anggaran, padahal masalah utamanya adalah akibat merekayasa lingkungan?   
Ini cukup sensitif, dan berkaitan dengan struktur perdagangan internasional yang selama ini ada. Termasuk melibatkan negara-negara bekas koloni, maupun negara-negara koloni. Mungkin ada beberapa pihak yang ingin lingkungan diperhatikan, sehingga tidak apa-apa jika perubahan iklim-lah dahulu sebagai dampak yang ditonjolkan. Namun, disisi lain, negara berkembang, yang mana merupakan bekas koloni (kalau yang dijajah sebutnya “negara kami ini telah dijajah!”), kelihatannya membutuhkan dana untuk memperbaiki lingkungannya. Namun, kenyataan yang sering dilaksanakan kurang fokus kepada permasalahan lingkungan, tetapi lebih pada inventarisasi emisi yang menyimpan GRK, seperti stok karbon. Perdagangan karbon, itu menurut saya pribadi, agak konyol—dan terkadang saya pun bertanya-tanya, apakah ini bagian dari strategi negara maju, yang juga membuat industri di negara berkembang, untuk “lepas sedikit” dari tanggung jawab lingkungannya? Entahlah, tapi setidaknya, hutan pun dengan perdagangan karbon ini mulai ditegaskan untuk tidak merusaknya, seperti melalui illegal logging, pembakaran hutan untuk sawit, dan sebagainya.

Jika memang fokus ingin mengurangi dampak perubahan iklim, maka selayaknya pemerintah melalui SDGs program bersinergi untuk mengubah industri-industri menjadi ramah lingkungan, demikian pula transportasi, dan bahkan mengubah energi sampah yang menghasilkan metana (dimana 25 kali lipat lebih berbahaya dari CO2) menjadi listrik. Pertanyaannya, pemerintah kita terlalu banyak fokus, sehingga penyelesaian konflik perencanaan pembangunan tidak satu-demi satu dan optimal selesainya. Memang, jika sudah bicara industri dan transportasi tidak sedikit mafianya, baik ditubuh pemerintahan maupun diluar itu, hingga yang menjalin kerjasama dagang. Ekonomi dari segi bisnis, lebih dipikirkan daripada masalah “apabila habitat kita rusak, kita akan tinggal dimana?”

Lalu, apa langkah sebenarnya mengatasi perubahan iklim?
Transformasi persepsi, bersamaan dengan sinergi swasta dan pemerintah yang benar-benar ingin dampak perubahan iklim berkurang. SADAR LINGKUNGAN. Dan tentunya, dengan program-program strategis tapi fokus, efisien dan efektif, tanpa membuang-buang anggaran. Misalnya: mengganti bahan bakar minyak, menjadi bahan bakar air, atau renewable energi lain berbahan dasar tumbuh-tumbuhan—misalnya bioetanol, dan sebagainya. Sudah banyak penelitian baik, dan kita punya banyak sumberdaya baik di laut, hutan, gunung, tanah, dan sebagainya, bahkan energi surya. Tinggal bagaimana bersama-sama mau membuat dalam skala besar. Kemudian, kita transformasi persepsi masyarakat, yang mengira jika perubahan energi dan sadar lingkungan ini merepotkan dan menghabiskan banyak biaya. Kita ubah, agar mereka dapat memperoleh benefit dari sini juga, dan jadikan ini sebagai suatu ajang menyenangkan (have fun), bahkan mempererat kekeluargaan, kekerabatan, pertemanan, dan sebagainya.

Quote perubahan iklim?
Perubahan iklim adalah dampak dari peradaban (budaya). Peradaban membentuk lingkungan, yang kemudian menjadi cikal bakal bagaimana alam “berbicara” pada kita.

Jumat, 09 Februari 2018

KETAHANAN INFRASTUKTUR JAKARTA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM: FENOMENA BANJIR ROB


Abstrak

Tulisan sebanyak 3 halaman ini, masuk nominasi 1 dalam Acara Climate Institute, tahun 2017 lalu, tetapi tidak saya presentasikan, karena bentrok kuliah. Secara singkat, ini merupakan rangkuman dari beberapa studi yang sengaja diambil intisarinya. Hal-hal yang dibahas ialah Jakarta berkaitan dengan fenomena banjir rob. Perlu diketahui, banjir rob sebenarnya sudah tanpa adanya perubahan iklim, karena kerusakan lingkungan yang sudah bertahun-tahun dilakukan di Jakarta Utara. Misalnya, rawa dikeringkan dan menjadi perumahan. Oleh karenanya, adaptasi masyarakat secara umum ialah meninggikan bangunan (sayangnya tetap ada kerugian materil). Sedangkan dari sudut pandang pemerintah melalui tanggul dan proyek reklamasi Giant Sea Wall.

Meskipun demikian, tidak dipungkiri, karena pencairan es di kutub sebagai akibat fenomena perubahan iklim, berdampak nyata kenaikan air laut. Disebutkan apabila air laut naik 1 cm, garis pantai akan mundur 1 meter (Otto Soemarto, "Ekologi, Linagkungan Hidup dan Pembangunan").

Disini, mari kita menelaah. Hal-hal apa yang perlu dipertahankan, dan apa-apa yang perlu dilepaskan. Semoga ada penanggulangan lebih lanjut, dan studi rangkuman ini tidak sekedar tulisan yang teronggok dalam perpustakaan saya semata (apalah arti sejarah jika hanya sekedar sejarah??).
======================================================================


KETAHANAN INFRASTUKTUR JAKARTA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM:
FENOMENA BANJIR ROB

Oleh: Lady Hafidaty R.K.

Perubahan iklim merupakan variabel yang perlu dimasukkan dalam pembangunan wilayah terutama dalam kajian perencanaan. Hal ini dikarenakan daya dukung lingkungan pun terpengaruh oleh adanya perubahan iklim.
Perkotaan merupakan kawasan yang rentan terhadap perubahan iklim. Berdasarkan laporan Climate Change and Environmental Risk Atlas ke-5 yang dirilis Maplecroft, 15 November 2012, Jakarta menempati urutan kelima berisiko tertinggi di Asia. Secara keseluruhan, Mapplecroft mengidentifikasi 50 kota yang memiliki peran penting dalam bisnis global saat ini dan masa datang, yang mana tujuh diantaranya: (1)Dhaka di Bangladesh; (2)Manila di Filipina; (3)Bangkok, Thailand; (4)Yangon di Myanmar; (5)Jakarta, Indonesia; (6)Ho Chi Minh di Viet Nam; (7)Kolkata, India.
Sebagai ibukota negara Indonesia, dan jantung perekonomian Indonesia, ketahanan Jakarta dalam menghadapi perubahan iklim sangat urgen dilaksanakan. Sebagai suatu sistem, Jakarta, memerlukan infrastruktur memadai dalam menjalankan fungsinya. Infrastruktur, menurut Grigg (1988) merupakan sistem fisik penyedia transporasi, pengairan, drainase, bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, baik kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi. Infrasturktur yang dimaksud ialah sistem berupa sarana dan prasarana (jaringan) yang tidak terpisahkan satu sama lain.
Geografi, menganalisis secara keruangan, berbagai gejala maupun fenomena geografi. Penyederhanaan geografi dituangkan dalam peta, yang unsur-unsurnya terdiri dari point, line dan area. Point (titik) ialah simbol atau model lokasi alami dan buatan, seperti gunungapi (alami), rumah sakit (buatan). Line (garis) ialah simbol atau model penghubung, seperti sungai (alami), jembatan (buatan). Area (daerah) ialah simbol berupa suatu lingkup tempat, seperti danau (alami), waduk (buatan). Penyederhanaan geografi dalam sebuah peta membuat seorang ahli geografi lebih mudah mensintesis dan menganalisa permasalahan di ruang lingkup geografi.
Infrastruktur yg dimaksud dapat berupa point, line maupun area. Geografi mencari fakta-fakta wilayah, mensintesis dan menganalisisnya. Kajian geografi pun dapat merekomendasikan pembangunan infrastruktur yang cocok disuatu lokasi, maupun memberikan rekomendasi kebijakan, dengan dibantu ilmu-ilmu lainnya. Hal ini dikarenakan geografi ialah mother of sciences yang overlap dengan ilmu-ilmu lain, serta analisanya holistik (menyeluruh). Kajian geografi memuat aspek fisik dan sosial secara temporal, sehingga kajiannya pun memerlukan data dan tinjauan yang tidak sedikit. Penghambat utama kajian wilayah di Indonesia ialah inventarisasi data, terutama melalui data sekunder. Jakarta, sebagai ibukota negara, berarti menjadi percontohan bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Tinjauan perubahan iklim di Jakarta terhadap infrastruktur sangat strategis dilakukan. Dalam hal ini tulisan difokuskan pada rentannya infrastruktur terhadap banjir rob—yang merupakan banjir akibat kenaikan muka air laut.
IPCC (2000) melali Special Report on Emission Scenarios (SRES) merumuskan satu set skenario emisi di atmosfer secara tidak langsung menyebabkan terjadinya kenaikan muka air laut. Peningkatan volume air laut dunia mengancam keberadaan pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir yang landai. DKI Jakarta, sebenarnya merupakan wilayah kota pesisir, karena wilayahnya berbatasan dengan teluk. Oleh karenanya DKI Jakarta berpotensi terkena bencana yang disebabkan kenaikan muka air laut, atau dengan kata lain banjir rob.
Topografi Jakarta Utara relatif rendah dan datar berakibat menjadi langganan banjir (rob) akibat kenaikan muka air laut seperti yang terjadi pada November 2011 lalu. Banjir rob merendam pertigaan Jalan RE Martadinata, pintu air pasar ikan, dan perumahan nelayan Angke, dimana ketinggian air di Jalan RE Martadinata mencapai 85 cm. Hasil pemantauan alat pengukur di pelabuhan Tanjung Priok, ketinggian muka air laut meningkat dari 180 cm menjadi 228 cm. Akibat kenaikan ini, Pantai Carnaval dan Pantai Marina Ancol terendam hingga mencapai 25 cm. Fenomena banjir rob ini pun diperparah dengan penurunan muka air tanah di DKI Jakarta akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, peningkatan bangunan baik industri maupun pemukiman, serta akibat konsolidasi alami tanah aluvial (Abidin et al., 2011).
Berdasarkan studi Tahun 2012 mengenai “Pemanfaatan Data Satelit untuk Analisis Potensi Genangan dan Dampak Kerusakan Akibat Kenaikan Muka Air Laut”[1] menggunakan DEM SRTM X-C band dan Quickbird untuk analisa potensi genangan dan dampaknya karena kenaikan muka air laut ialah sebagai berikut:
-       prediksi muka air laut tahun 2030 akibat pasang-surut adalah 2,88 meter, penurunan permukaan tanah 2,28 meter, dan skenario IPCC 1,29 meter, sehingga tinggi muka air laut rencana ialah 6,45 meter.
-       Kenaikan muka air laut mengakibatkan terjadinya potensi genangan pada wilayah permukiman dan industri di Kecamatan Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Cilincing dan Koja. Permukiman berpotensi tergenang hingga mencapai luas 1045 ha dan kawasan industri seluas 563 ha.
-       Penggunaan kawasan permukiman paling luas tergenang akibat kenaikan muka air laut rencana berada pada Kecamatan Penjaringan dengan luas 523 ha dan Kecamatan Cilincing 311 ha. Kawasan industri yang berpotensi tergenang mencapai luas 171 ha dan di Kecamatan Pademangan dengan luas 152 ha.
      Banjir rob merupakan bencana bagi perekonomian DKI Jakarta, dan dalam kancah nasional sebagai ibukota negara. Adalah sebuah kegagalan jika tidak dapat mengatasinya. Banjir rob merusak infrastruktur baik secara sistem jaringan maupun fasilitas.
Berikut ini merupakan sintesis dari beberapa sumber mengenai banjir rob di Jakarta Utara:
1.       Masyarakat Pesisir dan Adaptasi terhadap Banjir Rob
Masyarakat pesisir, umumnya mengetahui  istilah perubahan iklim, tetapi berdasarkan studi Berina dan Wijayanti (2012), hanya 50% yang paham terhadap perubahan iklim. Responden menyatakan dikatakan perubahan iklim apabila terjadi peningkatan suhu udara dan curah hujan yang tidak menentu.  Masyarakat kawasan pesisir mengalami banjir rob hampir setiap hari saat terjadi air pasang berkisar antara 0,08 hingga 0,54 meter. Sebanyak 84% responden menyatakan peningkatan intensitas banjir rob. Sebelum tahun 2007, terjadi intensitas banjir rob sebanyak 0-10 kali dalam 1 bulan, tetapi meningkat pasca banjir tahun 2007 hingga 2012 yaitu 15-20 kali dalam satu bulan. Strategi adaptasi terhadap banjir rob ialah sebagai berikut.
  
Tabel 1.Strategi Adaptasi Masyarakat
Kombinasi Adaptasi
%
Pembuatan Tanggul
4,65
Peninggian Lantai Dasar
72,09
Penambahan Lantai
4,65
Peninggian Jalan
4,65
Pembuatan Tanggul dan Peninggian Lantai Dasar
2,33
Pembuatan Tanggul dan Peninggian Jalan
2,33
Peninggian Lantai Dasar dan Penambahan Lantai
4,65
Peninggian Lantai Dasar dan Peninggian Jalan
4,65
TOTAL
100

Masyarakat pesisir Jakarta umumnya melakukan adaptasi terhadap banjir dengan meninggikan rumah. Biaya yang dikeluarkan mencapai Rp6.243.929,04 per rumah tangga per tahun. Kemampuan adaptasi masyarakat bergantung pada pendapatan rumah tangga, jarak rumah ke laut dan status kepemilikan lahan.

  1. Pemerintah telah menyiapkan program penanggulangan banjir yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Program program tersebut antara lain:
a.       Pembuatan tanggul (Pluit, Muara Baru, Pasar Ikan dan Luar Batang). Pemerintah pun menyediakan bantuan berojong batu kali dan tanggul pasir.
b.       Jakarta Giant Sea Wall (GSW)—proyek reklamasi seluas 50 km dan pembangunan tanggul raksasa sepanjang 32 km. Proyek merupakan bantuan dari pemerintah Belanda.

Berdasarkan studi literatur diatas dapat disimpulkan bahwa infrastruktur di DKI Jakarta dalam hal ketahanannya untuk perubahan iklim, seperti fenomena banjir rob, diperlukan modifikasi infrastruktur, seperti pada tabel 1. Meskipun upaya pemerintah telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diperlukan riset lebih mendalam mengenai dampak banjir rob, dan cara-cara untuk mengatasinya, mengingat fenomena perubahan iklim adalah suatu hal yang dinamis terhadap infrastruktur kota.


Sumber:
Abidin, H.Z., Andreas H, Gumilar I, Fukda Y., Pohan Y.E., dan T. Deguchi. 2011. Land Subsidance of Jakarta (Indonesia) and its Relation with Urban Development”. Nat.Hazards. Vol.59, pp.1753-1771.
Berina, Dina dan Pini Wijayanti. 2012. Strategi dan Biaya Adaptasi Masyarakat Teluk Jakarta Terhadap Dampak Banjir Rob Akibat Perubahan Iklim. Prosiding Seminar Ilmiahse-Eropa 2012, PPI Wageningen, 2 Juni 2012. Kategor: Ekonomi, Sosial, Ilmu Kebijakan dan Humaniora. Halaman 23-25.
Hijauku.com. 2012. “5 Kota di Asia Paling Rentan Perubahan Iklim”. http://www.hijauku.com/2012/11/21/5-kota-asia-paling-rentan-perubahan-iklim/
Anggreini, Nanin, dkk. 2012. Pemanfaatan Data Satelit untuk Analisis Potensi Genangan dan Dampak Kerusakan Akibat Kenaikan Muka Air Laut. Jurnal Penginderaan Jauh: Vol.9  No.2. Desember 2012: 140-151.
The World Bank. 2011. "Jakarta: Tantangan Perkotaan Seiring perubahan Iklim (Laporan)". Diakses di http://www.worldbank.org/in/news/feature/2011/11/03/jakarta-urban-challenges-in-a-changing-climate pada 3 November 2011.



[1] Nanin Anggraini, Bambang Trisakti dan Tri Edhi Budhi Soesilo dalam Jurnal Penginderaan Jauh Vol.9 No.2 Desember 2012: 140-151. 

Penulis Geje 2018~

Ini cerita tanggal 9 Februari 2018, dan saya kehujanan >_< … Oke, prediksi tepat, sore bakal hujan, tepat saya baru aja ikut Beda Buku “Ekologi” bikinan Mohammad Hasroel Thayib.

Ekspektasi saya ketinggian sama buku ini sebenarnya. Berharapnya terapan, tapi ternyata bab-babnya mencangkup hal-hal dasar. Saya yakin ilmu beliau lebih luas dari ini, tetapi kenapa mengeluarkan buku dasar lagi? Kapan bisa menemukan I Made Sandy kedua, yang nulis tentang JAMAN NOW-nya Indonesia. Oke, maksud saya, terapannya.  Indonesia itu terlalu luar biasa untuk enggak digosipin, di dunia! Perdagangan global aja mengakui.

Alhasil, tercetuslah saya untuk bikin blog ini lagi. Berharapnya sih, ga panjang-panjang nulisnya. Selain itu, pembaca-pembaca dari semua kalangan memahami, gejala, proses dan solusi yang bisa geografi berikan.

Yes! Ilmu geografi itu menyeluruh. Gak terkotak-kotak. Mother of science. Ilmu buat perang. Ilmu buat menjelajah. Ilmu buat gak nyasar. Ilmu buat lo dagang. Ilmu lo kalo mau hidup beneran di bumi—oke, maksud gue survival. Makanya, geografi itu ILMU DASAR yang perlu lo-lo semua tau. Geo gak cuma GIS, doang euyy… Gojek, yang pada kita pake itu, pake aplikasi pemodelan geografi yang dinamis…Peta and GPS.

Well, mungkin konten-konten disini bakalan analisis rada semi-ilmiah, atau ilmiah, atau omong-omongan gak jelas saya, yang bisa aja—kalo orang dengerin langsung, bakalan ngantuk (hiks, sedih). Namun, tetap bakal saya usahain kemas, biar seru yaa! Hehehe.

Semoga dari ini kita bisa bersama-sama menelusuri jejak geografi, ya.

Dan dari sini kita-kita bisa sama-sama belajar dan saling sharing.

Oh, ya, anyway, nama saya Lady, tapi lo bisa manggil gue Fida juga. Salam kenal & selamat ber-eureka!