18 Februari 2018; oleh Lady Hafidaty R.K.
Berpendapat informasi yang kita terima itu memang benar, tanpa mengkritisi lebih
jauh, bukankah agak “aneh”? Kita telah diberitahukan bahwa data itu ada dua,
yaitu bisa kita peroleh secara langsung atau primer—yang mana wujudnya kita
tahu benar-benar valid, atau data yang tidak langsung kita peroleh, atau biasa
disebut data sekunder—dari tangan ke tangan. Oleh karenanya, disini kita perlu
prinsip “stay hungry, stay foolish”-nya Steve Jobs.
Di era dunia ini, ada isu yang menggemparkan, dan menjadi
studi tersendiri dan bahkan lebih ditakuti dari pada sumber utama penyebabnya.
Saya katakan, isu ini mengenai “perubahan iklim”. Mari kita telaah satu per
satu.
Apa itu perubahan
iklim?
“Iklim” adalah rata-rata cuaca suatu wilayah untuk jangka
waktu yang panjang (minimal 30 tahun), meliputi wilayah yang luas. Sedangkan
apabila wilayahnya sempit (lokal/setempat) dan jangka waktunya singkat, maka
keadaan atmosfernya disebut “cuaca”. Secara definitif kedua istilah tersebut,
maka secara logika dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim ialah perubahan
kondisi atmosfer bumi dalam waktu panjang dan wilayahnya luas.
Apa itu
unsur-unsur iklim, dan bagaimana proses interaksinya?
Unsur-unsur iklim sama dengan unsur cuaca, yaitu suhu udara,
kelembaban, angin, tekanan udara dan curah hujan. Jika kita amati globe bumi
ini, kita bisa lihat bahwa mayoritas bumi terdiri dari air laut, sisanya adalah
daratan. Otomatis, yang sangat berpengaruh ialah stabilitas air terhadap
atmosfer. Dari fenomena ini, kita dapat temui secara sederhana pada dapur kita:
ketel atau pemanas air.
Dalam skala global, air dipanaskan melalui radiasi dan energi
matahari. Semakin jauh kedalaman air, maka akan kurang mendapatkan radiasi
matahari—itulah sebabnya lautan sangat dalam airnya sangat dingin. Pemanasan
oleh energi matahari berdampak pada kenaikan suhu udara, yang ikut memanaskan air laut, sehingga air pun berubah
fase dari cair ke gas. Kelembaban
adalah konsentrasi uap air di udara. Tekanan
udara dihasilkan setelah ada perbedaan panas dari udara. Angin, bergerak dari tekanan tinggi ke
tekanan yang rendah. Pembentukan awan, dipengaruhi oleh uap air dari air laut
yang dipanaskan matahari. Hujan turun pada saat sudah jenuh di atmosfer, dan
mencapai titik beku tertentu, lalu turun menjadi hujan air atau hujan es—bergantung
pada siklus air panjang, menengah apa pendek.
Berdasarkan pengamatan menarik garis benang merah, menurut
saya, siklus air, merupakan fenomena
penyebab interaksi iklim yang sesungguhnya. Selain itu, panas matahari merupakan kunci dari proses iklim sendiri, karena
mempengaruhi unsur utama untuk pembentukan awan, yaitu memanaskan air laut.
Inilah penyebab dari proses iklim maupun cuaca di atmosfer.
Lalu, perubahan iklim
itu kenapa dikaitkan dengan Gas Rumah Kaca (GRK)?
SIklus air dan panas matahari, adalah kunci dari proses
iklim dan cuaca. Dengan pemahaman ini, maka GRK dapat dimaknai.
Gas-gas Rumah Kaca
(GRK), menurut konvensi PBB, mengenai Perubahan
Iklim (United Nations
Framework Convention of Climate
Change-UNFCCC), ada 6
jenis gas, yaitu
karbondioksida (CO2), dinitrooksida
(N2O), metana (CH4),
sulfurheksafluorida (SF6),
perfluorokarbon (PFCs) dan
hidrofluorokarbon (HFCs). Keseluruhan GRK ini menahan radiasi matahari untuk
tetap berada di atmosfer. Sebenarnya, GRK jika tidak berlebih melindungi
bumi, tetapi yang menjadi “penyakit” Perubahan Iklim ialah over-heat-nya oleh GRK. Artinya, terlalu banyak unsur ini di udara,
sehingga berakibat fatal terhadap iklim maupun cuaca yang diperlukan untuk
kehidupan makhluk hidup.
Apakah perubahan
iklim adalah bagian dari lingkungan; atau lingkungan itu bagian dari perubahan
iklim?
Perubahan iklim adalah bagian dari dampak permasalahan
lingkungan yang ada. Ini pendapat pribadi saya, yang sudah lama berkecimpung
mengamati dan mencari benang merah dari riset-riset yang ada. Perubahan iklimàperubahan keadaan
atmosfer; berubah dalam jangka waktu minimal 30 tahun dan wilayahnya luas. GRK yang
berlebih adalah pemicu keadaan atmosfer menjadi kurang stabil untuk kehidupan. Beberapa
studi menyalahkan mengenai “Urban Heat Island” (UHI) adalah penyebab perubahan
unsur-unsur cuaca maupun iklim. Padahal UHI adalah indikator dari aktivitas penyebab perubahan iklim.
Sumber penyebab sebenarnya, kenapa di perkotaan lebih panas
daripada di daerah rural, sesuai grafik UHI adalah karena aktivitas ekonomi
yang menyebabkan emisi GRK, serta penggunaan material bangunan penyerap radiasi
matahari. Pemanasan suhu di daratan yang diindikasikan UHI ini, dapat membuat
fluktuatif presipitasi di lokasi-lokasi tertentu. Selain itu, perubahan lahan
tidak terbangun menjadi terbangun, terutama dari badan air dan vegetasi (lahan
tidak terbanguna) yang keduanya menurunkan suhu, menyebabkan pemanasan kian
menjenuh di perkotaan.
Akar penyebab dari GRK sendiri, ialah emisi GRK dari
berbagai aktivitas industri, transportasi, energi, persampahan, dan sebagainya.
Oleh karenanya, sebenarnya jika dilihat dari akar penyebab masalah, perubahan iklim adalah dampak dari
masalah lingkungan yang selama ini kita lakukan. Jadi, kita sebenarnya
telah menuai “perubahan iklim” akibat menabur sesuatu, yaitu “emisi GRK dan
mengubah alam”.
Kenapa kebijakan di dunia selama ini
menyalahkan perubahan iklim, dan terlihat membuang-buang anggaran, padahal
masalah utamanya adalah akibat merekayasa lingkungan?
Ini cukup sensitif, dan berkaitan dengan struktur perdagangan
internasional yang selama ini ada. Termasuk melibatkan negara-negara bekas koloni,
maupun negara-negara koloni. Mungkin ada beberapa pihak yang ingin lingkungan
diperhatikan, sehingga tidak apa-apa jika perubahan iklim-lah dahulu sebagai
dampak yang ditonjolkan. Namun, disisi lain, negara berkembang, yang mana
merupakan bekas koloni (kalau yang dijajah sebutnya “negara kami ini telah
dijajah!”), kelihatannya membutuhkan dana untuk memperbaiki lingkungannya.
Namun, kenyataan yang sering dilaksanakan kurang fokus kepada permasalahan
lingkungan, tetapi lebih pada inventarisasi emisi yang menyimpan GRK, seperti stok
karbon. Perdagangan karbon, itu menurut saya pribadi, agak konyol—dan terkadang
saya pun bertanya-tanya, apakah ini bagian dari strategi negara maju, yang juga
membuat industri di negara berkembang, untuk “lepas sedikit” dari tanggung
jawab lingkungannya? Entahlah, tapi setidaknya, hutan pun dengan perdagangan
karbon ini mulai ditegaskan untuk tidak merusaknya, seperti melalui illegal
logging, pembakaran hutan untuk sawit, dan sebagainya.
Jika memang fokus ingin mengurangi dampak perubahan iklim,
maka selayaknya pemerintah melalui SDGs program bersinergi untuk mengubah
industri-industri menjadi ramah lingkungan, demikian pula transportasi, dan
bahkan mengubah energi sampah yang menghasilkan metana (dimana 25 kali lipat
lebih berbahaya dari CO2) menjadi listrik. Pertanyaannya, pemerintah kita
terlalu banyak fokus, sehingga penyelesaian konflik perencanaan pembangunan
tidak satu-demi satu dan optimal selesainya. Memang, jika sudah bicara industri
dan transportasi tidak sedikit mafianya, baik ditubuh pemerintahan maupun
diluar itu, hingga yang menjalin kerjasama dagang. Ekonomi dari segi bisnis, lebih
dipikirkan daripada masalah “apabila habitat kita rusak, kita akan tinggal
dimana?”
Lalu, apa langkah sebenarnya mengatasi
perubahan iklim?
Transformasi
persepsi, bersamaan dengan sinergi swasta dan pemerintah yang benar-benar ingin
dampak perubahan iklim berkurang. SADAR LINGKUNGAN. Dan tentunya, dengan
program-program strategis tapi fokus, efisien dan efektif, tanpa membuang-buang
anggaran. Misalnya: mengganti bahan bakar minyak, menjadi bahan bakar air, atau
renewable energi lain berbahan dasar tumbuh-tumbuhan—misalnya bioetanol, dan
sebagainya. Sudah banyak penelitian baik, dan kita punya banyak sumberdaya baik
di laut, hutan, gunung, tanah, dan sebagainya, bahkan energi surya. Tinggal
bagaimana bersama-sama mau membuat dalam skala besar. Kemudian, kita
transformasi persepsi masyarakat, yang mengira jika perubahan energi dan sadar
lingkungan ini merepotkan dan menghabiskan banyak biaya. Kita ubah, agar mereka
dapat memperoleh benefit dari sini juga, dan jadikan ini sebagai suatu ajang
menyenangkan (have fun), bahkan mempererat kekeluargaan, kekerabatan,
pertemanan, dan sebagainya.
Quote perubahan iklim?
Perubahan
iklim adalah dampak dari peradaban (budaya). Peradaban membentuk lingkungan,
yang kemudian menjadi cikal bakal bagaimana alam “berbicara” pada kita.