Saya posting juga di https://ui.academia.edu/ladyhafidatyrahmakautsar
Abstrak
Tulisan sebanyak 3 halaman ini, masuk nominasi 1 dalam Acara Climate Institute, tahun 2017 lalu, tetapi tidak saya presentasikan, karena bentrok kuliah. Secara singkat, ini merupakan rangkuman dari beberapa studi yang sengaja diambil intisarinya. Hal-hal yang dibahas ialah Jakarta berkaitan dengan fenomena banjir rob. Perlu diketahui, banjir rob sebenarnya sudah tanpa adanya perubahan iklim, karena kerusakan lingkungan yang sudah bertahun-tahun dilakukan di Jakarta Utara. Misalnya, rawa dikeringkan dan menjadi perumahan. Oleh karenanya, adaptasi masyarakat secara umum ialah meninggikan bangunan (sayangnya tetap ada kerugian materil). Sedangkan dari sudut pandang pemerintah melalui tanggul dan proyek reklamasi Giant Sea Wall.
Meskipun demikian, tidak dipungkiri, karena pencairan es di kutub sebagai akibat fenomena perubahan iklim, berdampak nyata kenaikan air laut. Disebutkan apabila air laut naik 1 cm, garis pantai akan mundur 1 meter (Otto Soemarto, "Ekologi, Linagkungan Hidup dan Pembangunan").
Disini, mari kita menelaah. Hal-hal apa yang perlu dipertahankan, dan apa-apa yang perlu dilepaskan. Semoga ada penanggulangan lebih lanjut, dan studi rangkuman ini tidak sekedar tulisan yang teronggok dalam perpustakaan saya semata (apalah arti sejarah jika hanya sekedar sejarah??).
======================================================================
KETAHANAN INFRASTUKTUR JAKARTA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM:
FENOMENA BANJIR ROB
Oleh: Lady Hafidaty R.K.
Perubahan iklim merupakan variabel yang perlu dimasukkan dalam pembangunan wilayah terutama dalam kajian perencanaan. Hal ini dikarenakan daya dukung lingkungan pun terpengaruh oleh adanya perubahan iklim.
Perkotaan merupakan kawasan yang rentan terhadap perubahan iklim. Berdasarkan laporan Climate Change and Environmental Risk Atlas ke-5 yang dirilis Maplecroft, 15 November 2012, Jakarta menempati urutan kelima berisiko tertinggi di Asia. Secara keseluruhan, Mapplecroft mengidentifikasi 50 kota yang memiliki peran penting dalam bisnis global saat ini dan masa datang, yang mana tujuh diantaranya: (1)Dhaka di Bangladesh; (2)Manila di Filipina; (3)Bangkok, Thailand; (4)Yangon di Myanmar; (5)Jakarta, Indonesia; (6)Ho Chi Minh di Viet Nam; (7)Kolkata, India.
Sebagai ibukota negara Indonesia, dan jantung perekonomian Indonesia, ketahanan Jakarta dalam menghadapi perubahan iklim sangat urgen dilaksanakan. Sebagai suatu sistem, Jakarta, memerlukan infrastruktur memadai dalam menjalankan fungsinya. Infrastruktur, menurut Grigg (1988) merupakan sistem fisik penyedia transporasi, pengairan, drainase, bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, baik kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi. Infrasturktur yang dimaksud ialah sistem berupa sarana dan prasarana (jaringan) yang tidak terpisahkan satu sama lain.
Geografi, menganalisis secara keruangan, berbagai gejala maupun fenomena geografi. Penyederhanaan geografi dituangkan dalam peta, yang unsur-unsurnya terdiri dari point, line dan area. Point (titik) ialah simbol atau model lokasi alami dan buatan, seperti gunungapi (alami), rumah sakit (buatan). Line (garis) ialah simbol atau model penghubung, seperti sungai (alami), jembatan (buatan). Area (daerah) ialah simbol berupa suatu lingkup tempat, seperti danau (alami), waduk (buatan). Penyederhanaan geografi dalam sebuah peta membuat seorang ahli geografi lebih mudah mensintesis dan menganalisa permasalahan di ruang lingkup geografi.
Infrastruktur yg dimaksud dapat berupa point, line maupun area. Geografi mencari fakta-fakta wilayah, mensintesis dan menganalisisnya. Kajian geografi pun dapat merekomendasikan pembangunan infrastruktur yang cocok disuatu lokasi, maupun memberikan rekomendasi kebijakan, dengan dibantu ilmu-ilmu lainnya. Hal ini dikarenakan geografi ialah mother of sciences yang overlap dengan ilmu-ilmu lain, serta analisanya holistik (menyeluruh). Kajian geografi memuat aspek fisik dan sosial secara temporal, sehingga kajiannya pun memerlukan data dan tinjauan yang tidak sedikit. Penghambat utama kajian wilayah di Indonesia ialah inventarisasi data, terutama melalui data sekunder. Jakarta, sebagai ibukota negara, berarti menjadi percontohan bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Tinjauan perubahan iklim di Jakarta terhadap infrastruktur sangat strategis dilakukan. Dalam hal ini tulisan difokuskan pada rentannya infrastruktur terhadap banjir rob—yang merupakan banjir akibat kenaikan muka air laut.
IPCC (2000) melali Special Report on Emission Scenarios (SRES) merumuskan satu set skenario emisi di atmosfer secara tidak langsung menyebabkan terjadinya kenaikan muka air laut. Peningkatan volume air laut dunia mengancam keberadaan pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir yang landai. DKI Jakarta, sebenarnya merupakan wilayah kota pesisir, karena wilayahnya berbatasan dengan teluk. Oleh karenanya DKI Jakarta berpotensi terkena bencana yang disebabkan kenaikan muka air laut, atau dengan kata lain banjir rob.
Topografi Jakarta Utara relatif rendah dan datar berakibat menjadi langganan banjir (rob) akibat kenaikan muka air laut seperti yang terjadi pada November 2011 lalu. Banjir rob merendam pertigaan Jalan RE Martadinata, pintu air pasar ikan, dan perumahan nelayan Angke, dimana ketinggian air di Jalan RE Martadinata mencapai 85 cm. Hasil pemantauan alat pengukur di pelabuhan Tanjung Priok, ketinggian muka air laut meningkat dari 180 cm menjadi 228 cm. Akibat kenaikan ini, Pantai Carnaval dan Pantai Marina Ancol terendam hingga mencapai 25 cm. Fenomena banjir rob ini pun diperparah dengan penurunan muka air tanah di DKI Jakarta akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, peningkatan bangunan baik industri maupun pemukiman, serta akibat konsolidasi alami tanah aluvial (Abidin et al., 2011).
Berdasarkan studi Tahun 2012 mengenai “Pemanfaatan Data Satelit untuk Analisis Potensi Genangan dan Dampak Kerusakan Akibat Kenaikan Muka Air Laut”[1] menggunakan DEM SRTM X-C band dan Quickbird untuk analisa potensi genangan dan dampaknya karena kenaikan muka air laut ialah sebagai berikut:
- prediksi muka air laut tahun 2030 akibat pasang-surut adalah 2,88 meter, penurunan permukaan tanah 2,28 meter, dan skenario IPCC 1,29 meter, sehingga tinggi muka air laut rencana ialah 6,45 meter.
- Kenaikan muka air laut mengakibatkan terjadinya potensi genangan pada wilayah permukiman dan industri di Kecamatan Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Cilincing dan Koja. Permukiman berpotensi tergenang hingga mencapai luas 1045 ha dan kawasan industri seluas 563 ha.
- Penggunaan kawasan permukiman paling luas tergenang akibat kenaikan muka air laut rencana berada pada Kecamatan Penjaringan dengan luas 523 ha dan Kecamatan Cilincing 311 ha. Kawasan industri yang berpotensi tergenang mencapai luas 171 ha dan di Kecamatan Pademangan dengan luas 152 ha.
Berikut ini merupakan sintesis dari beberapa sumber mengenai banjir rob di Jakarta Utara:
1. Masyarakat Pesisir dan Adaptasi terhadap Banjir Rob
Masyarakat pesisir, umumnya mengetahui istilah perubahan iklim, tetapi berdasarkan studi Berina dan Wijayanti (2012), hanya 50% yang paham terhadap perubahan iklim. Responden menyatakan dikatakan perubahan iklim apabila terjadi peningkatan suhu udara dan curah hujan yang tidak menentu. Masyarakat kawasan pesisir mengalami banjir rob hampir setiap hari saat terjadi air pasang berkisar antara 0,08 hingga 0,54 meter. Sebanyak 84% responden menyatakan peningkatan intensitas banjir rob. Sebelum tahun 2007, terjadi intensitas banjir rob sebanyak 0-10 kali dalam 1 bulan, tetapi meningkat pasca banjir tahun 2007 hingga 2012 yaitu 15-20 kali dalam satu bulan. Strategi adaptasi terhadap banjir rob ialah sebagai berikut.
Tabel 1.Strategi Adaptasi Masyarakat
|
Kombinasi Adaptasi
|
%
|
|
Pembuatan Tanggul
|
4,65
|
|
Peninggian Lantai Dasar
|
72,09
|
|
Penambahan Lantai
|
4,65
|
|
Peninggian Jalan
|
4,65
|
|
Pembuatan Tanggul dan Peninggian Lantai Dasar
|
2,33
|
|
Pembuatan Tanggul dan Peninggian Jalan
|
2,33
|
|
Peninggian Lantai Dasar dan Penambahan Lantai
|
4,65
|
|
Peninggian Lantai Dasar dan Peninggian Jalan
|
4,65
|
|
TOTAL
|
100
|
Masyarakat pesisir Jakarta umumnya melakukan adaptasi terhadap banjir dengan meninggikan rumah. Biaya yang dikeluarkan mencapai Rp6.243.929,04 per rumah tangga per tahun. Kemampuan adaptasi masyarakat bergantung pada pendapatan rumah tangga, jarak rumah ke laut dan status kepemilikan lahan.
- Pemerintah telah menyiapkan program penanggulangan banjir yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Program program tersebut antara lain:
a. Pembuatan tanggul (Pluit, Muara Baru, Pasar Ikan dan Luar Batang). Pemerintah pun menyediakan bantuan berojong batu kali dan tanggul pasir.
b. Jakarta Giant Sea Wall (GSW)—proyek reklamasi seluas 50 km dan pembangunan tanggul raksasa sepanjang 32 km. Proyek merupakan bantuan dari pemerintah Belanda.
Berdasarkan studi literatur diatas dapat disimpulkan bahwa infrastruktur di DKI Jakarta dalam hal ketahanannya untuk perubahan iklim, seperti fenomena banjir rob, diperlukan modifikasi infrastruktur, seperti pada tabel 1. Meskipun upaya pemerintah telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, diperlukan riset lebih mendalam mengenai dampak banjir rob, dan cara-cara untuk mengatasinya, mengingat fenomena perubahan iklim adalah suatu hal yang dinamis terhadap infrastruktur kota.
Sumber:
Abidin, H.Z., Andreas H, Gumilar I, Fukda Y., Pohan Y.E., dan T. Deguchi. 2011. Land Subsidance of Jakarta (Indonesia) and its Relation with Urban Development”. Nat.Hazards. Vol.59, pp.1753-1771.
Berina, Dina dan Pini Wijayanti. 2012. Strategi dan Biaya Adaptasi Masyarakat Teluk Jakarta Terhadap Dampak Banjir Rob Akibat Perubahan Iklim. Prosiding Seminar Ilmiahse-Eropa 2012, PPI Wageningen, 2 Juni 2012. Kategor: Ekonomi, Sosial, Ilmu Kebijakan dan Humaniora. Halaman 23-25.
Hijauku.com. 2012. “5 Kota di Asia Paling Rentan Perubahan Iklim”. http://www.hijauku.com/2012/11/21/5-kota-asia-paling-rentan-perubahan-iklim/
Anggreini, Nanin, dkk. 2012. Pemanfaatan Data Satelit untuk Analisis Potensi Genangan dan Dampak Kerusakan Akibat Kenaikan Muka Air Laut. Jurnal Penginderaan Jauh: Vol.9 No.2. Desember 2012: 140-151.
The World Bank. 2011. "Jakarta: Tantangan Perkotaan Seiring perubahan Iklim (Laporan)". Diakses di http://www.worldbank.org/in/news/feature/2011/11/03/jakarta-urban-challenges-in-a-changing-climate pada 3 November 2011.
[1] Nanin Anggraini, Bambang Trisakti dan Tri Edhi Budhi Soesilo dalam Jurnal Penginderaan Jauh Vol.9 No.2 Desember 2012: 140-151.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar